Salah satu perkembangan doktrinal paling signifikan dalam sejarah Gereja terjadi ketika fokus perdebatan teologis bergeser dari Kristologi menuju Pneumatologi. Jika kontroversi Arian pada abad keempat mempertanyakan keilahian Kristus, maka kemunculan Pneumatomachoi (πνευματομάχοι), “para penentang Roh,” mengalihkan perhatian Gereja kepada status dan karya Roh Kudus.
Kelompok ini mengakui Allah Bapa sebagai Allah sejati dan memberikan kedudukan tertentu kepada Anak. Namun mereka menolak keilahian penuh Roh Kudus. Roh dipahami sebagai makhluk perantara, kuasa ilahi, atau agen surgawi yang berada di bawah Allah.
Bagi para Bapa Kapadokia, khususnya Basil dari Kaisarea, Gregorius Nazianzus, dan Gregorius Nyssa, pandangan tersebut bukan sekadar kesalahan metafisik. Mereka melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap doktrin keselamatan.
Jika Roh Kudus bukan Allah, maka Ia tidak dapat memberikan kehidupan ilahi. Jika Roh Kudus bukan Allah, maka pengudusan hanya menjadi proses moral dan bukan partisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. Karena itu, pembelaan terhadap keilahian Roh Kudus merupakan pembelaan terhadap inti Injil.
Dari keyakinan inilah lahir pengakuan Konstantinopel yang menyebut Roh Kudus sebagai Kyrios kai Zōopoion (Κύριον καὶ Ζωοποιόν), “Tuhan dan Pemberi Hidup,” yang bersama-sama disembah dan dimuliakan dengan Bapa dan Anak.
Namun sejarah menunjukkan bahwa Pneumatomachianisme tidak benar-benar berakhir pada abad keempat. Setelah dikalahkan secara ontologis, pola pikir dasarnya muncul kembali dalam bentuk-bentuk yang lebih subtil.
Pada masa Socinianisme dan Unitarianisme, Roh Kudus direduksi menjadi sekadar kuasa atau pengaruh Allah. Pada era Pencerahan, rasionalisme teologis mulai mempertanyakan dimensi supranatural karya Roh Kudus. Dalam liberalisme modern, Roh Kudus sering dipahami sebagai simbol pengalaman religius atau kesadaran moral manusia.
Walaupun bentuk-bentuk tersebut berbeda secara historis, semuanya bergerak ke arah yang sama. Ruang bagi tindakan Roh Kudus yang aktif, transenden, dan berdaulat semakin dipersempit.
Dengan demikian, Pneumatomachianisme tidak hanya dapat dipahami sebagai sebuah bidat kuno. Ia juga dapat dipahami sebagai kecenderungan teologis yang terus muncul dalam berbagai generasi.
Dari perspektif pneumatologi Pentakostal, penolakan terhadap Roh Kudus tidak hanya terjadi pada level ontologis, tetapi juga pada level epistemologis dan pragmatis.
Jika Pneumatomachianisme klasik mempertanyakan siapa Roh Kudus itu, maka bentuk-bentuk modernnya mempertanyakan bagaimana Roh Kudus dikenal dan bagaimana Roh Kudus bekerja.
Dalam banyak tradisi pasca-Pencerahan, sumber utama pengetahuan teologis secara perlahan bergeser dari pengalaman Roh menuju rasionalitas manusia. Akibatnya, kategori-kategori pneumatologis seperti charismata (χαρίσματα), dynamis (δύναμις), energeia (ἐνέργεια), nubuat, pewahyuan, dan manifestasi supranatural semakin ditempatkan di pinggiran kehidupan gerejawi.
Roh Kudus tetap diakui dalam kredo dan sistem doktrin. Namun Ia tidak lagi menjadi pusat ekspektasi teologis maupun pengalaman eklesial. Dalam konteks ini, Gereja berisiko mempertahankan ortodoksi pneumatologis tanpa vitalitas pneumatologis.
Perkembangan berikutnya dapat dilihat dalam hubungan antara Pneumatomachianisme dan berbagai bentuk cessationisme modern.
Secara formal, kaum cessationist tetap mengakui Roh Kudus sebagai pribadi ketiga Tritunggal. Namun berbagai manifestasi yang menandai kehidupan Gereja Perjanjian Baru, seperti nubuat, bahasa roh, penyembuhan ilahi, mujizat, dan karunia-karunia supranatural, sering dipandang telah berhenti bersama berakhirnya era rasuli.
Akibatnya, Roh Kudus tidak lagi dipahami sebagai agen aktif yang terus memperluas pemerintahan Kristus dalam sejarah. Peran-Nya lebih banyak dibatasi sebagai penjaga ortodoksi, penerang Kitab Suci, dan penghibur individual.
Dalam arti tertentu, apa yang dahulu dilakukan Pneumatomachianisme melalui penolakan ontologis kini dapat muncul melalui pembatasan operasional. Roh Kudus tidak ditolak, tetapi ruang lingkup karya-Nya dipersempit. Akibatnya, dimensi dinamis kehidupan Gereja mengalami reduksi.
Dalam konteks inilah tesis utama tulisan ini perlu ditegaskan.
Jika Pneumatomachianisme klasik merupakan penolakan ontologis terhadap keilahian Roh Kudus, maka manifestasi modernnya sering muncul dalam bentuk penolakan epistemologis terhadap Roh Kudus sebagai subjek pewahyuan ilahi yang aktif, serta penolakan pragmatis terhadap keberlanjutan karya dan manifestasi-Nya di dalam Gereja.
Dengan demikian, perdebatan kontemporer tidak lagi berpusat pada pertanyaan ontologis mengenai siapa Roh Kudus itu, melainkan pada pertanyaan pneumatologis yang lebih mendasar: apakah Roh Kudus masih berbicara, bertindak, dan memerintah melalui Gereja sebagai representasi kehadiran dan pemerintahan Kristus yang telah dimuliakan?
Ketika jawaban terhadap pertanyaan ini menjadi negatif, Roh Kudus tetap dipertahankan dalam formulasi dogmatis Tritunggal. Namun secara fungsional Ia terpinggirkan dari pusat pengalaman, kuasa, misi, dan kehidupan Gereja.
Akibatnya, yang tersisa sering kali adalah ortodoksi pneumatologis tanpa vitalitas pneumatologis. Roh Kudus diakui dalam kredo, tetapi tidak lagi diharapkan secara nyata sebagai Tuhan dan Pemberi Hidup yang menghadirkan pemerintahan Kristus dalam sejarah.
Kesaksian Perjanjian Baru justru menunjukkan pola yang berbeda.
Dalam Injil Yohanes, Yesus menjanjikan kedatangan Paraklētos (Παράκλητος), Sang Penolong, yang akan melanjutkan pelayanan-Nya setelah kenaikan-Nya.
Dalam kitab Kisah Para Rasul, pencurahan Roh Kudus bukanlah epilog dari karya Kristus. Peristiwa itu merupakan inaugurasi fase baru pemerintahan Mesianik.
Kristus yang bangkit dan dimuliakan mencurahkan Roh Kudus dari takhta surgawi-Nya kepada Gereja. Karena itu, Pentakosta bukan sekadar pengalaman spiritual. Pentakosta adalah tindakan kerajaan (kingdom act) dari Kristus yang ditinggikan.
Roh Kudus menjadi representasi aktif kehadiran Kristus di tengah umat-Nya. Melalui Roh Kudus, pemerintahan Kristus diperluas ke seluruh bumi.
Sebagai Spirit of Life dan sekaligus Spirit of Power, Roh Kudus bukan hanya memberikan kehidupan ilahi. Ia juga memperlengkapi Gereja dengan kuasa untuk menjalankan misinya.
Ia tidak hanya membawa umat kepada Kristus. Ia juga menghadirkan Kristus kepada umat.
Lebih jauh lagi, ekonomi Tritunggal menunjukkan bahwa meskipun ketiga pribadi ilahi selalu bekerja bersama, terdapat penekanan fungsi tertentu dalam berbagai musim sejarah keselamatan.
Dalam Perjanjian Lama, karya Bapa sebagai sumber dan pengarah sejarah keselamatan tampak dominan.
Dalam inkarnasi, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus, fokus sejarah keselamatan berpusat pada karya Anak.
Namun setelah kenaikan Kristus, sejarah Gereja memasuki era Roh Kudus.
Hal ini tidak berarti Roh Kudus menggantikan Kristus. Ia juga tidak bekerja secara independen dari Kristus. Sebaliknya, Roh Kudus adalah perpanjangan kehadiran Kristus yang dimuliakan.
Apa yang Kristus peroleh melalui salib, kebangkitan, dan kenaikan-Nya kini diterapkan, dimanifestasikan, dan diperluas oleh Roh Kudus kepada Gereja dan dunia.
Dengan demikian, era Gereja adalah era pemerintahan Kristus melalui Roh Kudus.
Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa tidak menjadi pasif setelah kenaikan-Nya. Ia terus memerintah surga dan bumi melalui Roh-Nya.
Roh Kudus menginsafkan dunia, membangun Gereja, memperlengkapi orang percaya dengan karunia-karunia, mengutus para saksi ke ujung bumi, membangkitkan kebangunan rohani, dan mengarahkan sejarah menuju kepenuhannya di dalam Kerajaan Allah.
Karena itu, tantangan terbesar Gereja masa kini bukan sekadar mempertahankan doktrin Tritunggal secara konseptual, melainkan memulihkan kesadaran pneumatologis yang utuh.
Arianisme mempertanyakan keilahian Kristus. Pneumatomachianisme mempertanyakan keilahian Roh Kudus. Namun dalam bentuk modernnya, Pneumatomachianisme tidak lagi bertanya siapa Roh Kudus itu, melainkan apakah Roh Kudus masih berbicara, bertindak, dan memerintah melalui Gereja.
Ketika jawaban terhadap pertanyaan itu menjadi negatif, Roh Kudus tetap diakui dalam doktrin, tetapi tidak lagi diharapkan dalam pengalaman, kuasa, dan misi Gereja.
Sebaliknya, ketika Roh Kudus diakui sebagai Tuhan dan Pemberi Hidup yang terus bekerja dalam sejarah, Gereja memasuki kembali realitas apostolik di mana Kristus yang dimuliakan terus memperluas pemerintahan-Nya melalui Roh Kudus dan mempelai-Nya hingga Ia datang kembali.
Pdt. Dr. Hanny Setiawan
